Pemilihan Ketua Rukun Warga (RW) merupakan salah satu bentuk paling nyata dari praktik demokrasi di tingkat paling dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Di RW 04 Desa Cimahi, pemilihan Ketua RW menjadi momentum penting bagi warga untuk menentukan arah kepemimpinan lingkungan, memilih sosok yang dipercaya mampu mengelola persoalan sosial, menjaga keharmonisan, serta menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah desa. Namun, realitas yang terjadi menunjukkan bahwa proses demokrasi tersebut belum sepenuhnya berjalan secara optimal. Hal ini terlihat dari rendahnya tingkat kehadiran dan partisipasi warga RW 05 Desa Cimahi dalam kegiatan pemilihan Ketua RW.
Fenomena “sepinya bilik suara” di RW 04 Desa Cimahi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih mendalam, yakni melemahnya kesadaran demokrasi di tingkat lokal. Sebagian warga memandang pemilihan Ketua RW hanya sebagai formalitas administratif tanpa dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Selain itu, faktor kesibukan, kurangnya sosialisasi, serta minimnya pemahaman tentang pentingnya peran Ketua RW turut memengaruhi rendahnya keterlibatan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa demokrasi di lingkungan RW 04 Desa Cimahi masih membutuhkan penguatan, khususnya dalam membangun rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif terhadap proses pemilihan.
Rendahnya partisipasi warga RW 04 Desa Cimahi dalam pemilihan Ketua RW berdampak langsung terhadap kualitas kepemimpinan lingkungan. Ketika proses pemilihan hanya diikuti oleh sebagian kecil warga, legitimasi Ketua RW terpilih menjadi kurang kuat. Akibatnya, pelaksanaan program kerja RW, koordinasi kegiatan sosial, serta penyelesaian berbagai persoalan warga berpotensi tidak berjalan secara maksimal. Padahal, Ketua RW memiliki peran strategis dalam menggerakkan partisipasi masyarakat dan menjaga stabilitas sosial di lingkungan RW 04 Desa Cimahi.
Dalam konteks tersebut, kehadiran mahasiswa KKN di RW 04 Desa Cimahi menjadi bagian penting dalam upaya menghidupkan kembali partisipasi warga. Melalui kegiatan sosialisasi, pendampingan, dan edukasi tentang pentingnya demokrasi lokal, mahasiswa berupaya membangun kesadaran bahwa pemilihan Ketua RW bukan sekadar memilih figur, tetapi merupakan proses menentukan masa depan lingkungan secara bersama-sama. Interaksi langsung dengan warga juga membuka ruang dialog untuk memahami alasan rendahnya partisipasi sekaligus mencari solusi yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat RW 04 Desa Cimahi.
Dengan demikian, pemilihan Ketua RW di RW 04 Desa Cimahi seharusnya dipandang sebagai sarana penguatan demokrasi akar rumput. Sepinya bilik suara yang terjadi justru menjadi cermin bahwa demokrasi lokal perlu terus dirawat dan diperkuat melalui partisipasi aktif masyarakat. Apabila warga semakin sadar akan pentingnya keterlibatan mereka, maka kepemimpinan yang terpilih akan lebih legitimate, aspiratif, dan mampu membawa perubahan nyata bagi kehidupan sosial di lingkungan RW 04 Desa Cimahi.
Editor: Adnan Laudza Prasetya (085724198824)